Plus Minus KPR Syariah Serta Model Pembayarannya

Ketika Anda ingin memulai bisnis KPR syariah, mengetahui plus minus KPR syariah menjadi poin utama yang harus Anda ketahui. Hal ini karena KPR atau yang juga dikenal dengan kredit perumahan menjadi salah satu bisnis favorit bagi mereka yang ingin memiliki rumah sendiri.

Alasan lain mengapa bisnis yang satu ini kerap dipilih dibandingkan dengan kredit melalui perbankan konvensional adalah KPR menerapkan sistem kredit tanpa bunga. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kredit melalui perbankan konvensional yang memiliki bunga cukup tinggi. Dengan kata lain, bisnis ini dijamin akan sangat menguntungkan baik untuk konsumen ataupun developer. Lantas apa saja kelebihan dan kekurangan KPR syariah? Untuk mengetahui hal tersebut, Anda harus menyimak ulasan pada kesempatan kali ini hingga akhir.

Kelebihan serta Kekurangan KPR Syariah

 KPR Syariah
KPR Syariah

Mengenai kelebihan serta kekurangan KPR syariah, hal paling mencolok di sini adalah tentang sistem yang digunakan pada bisnis ini. Sama halnya dengan investasi syariah, KPR syariah pun menerapkan sistem yang benar-benar diperbolehkan dalam syariat Islam. Dengan kata lain, tak ada bunga atau hal apapun yang tidak diperbolehkan dalam syariat. Penjelasan lebih lengkap dapat Anda baca pada ulasan berikut:

1. Kelebihan KPR Syariah

Kelebihan pertama yang dimiliki oleh KPR syariah adalah penerapan cicilan yang nilainya tidak berubah setiap bulannya. Dengan kata lain, besaran cicilan tidak bergantung pada suku bunga bank. Misalnya ketika konsumen membeli sebuah rumah dengan harga 120 juta dan dicicil selama 1 tahun dengan jumlah cicilan perbulan adalah 10 juta rupiah. Kemudian di saat bersamaan, nilai tukar rupiah naik ataupun turun. Maka kewajiban cicilan yang harus dibayar oleh konsumen yakni tetap 10 juta perbulan.

Jumlah cicilan yang sudah dapat diprediksi tersebut tentu akan sangat meringankan konsumen dalam melakukan perencanaan di bidang keuangan. Tak hanya itu saja, jika pada suatu ketika konsumen dapat melunasi cicilan lebih cepat dibandingkan waktu yang disepakati, maka tidak akan terjadi denda atau penalti. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan KPR oleh perbankan profesional yang menerapkan denda ataupun penalti ketika debitur membayar terlalu lambat atau bahkan terlalu cepat.

Meski demikian, dalam memilih bisnis KPR syariah yang tepat, Anda juga harus lebih teliti karena saat ini ada juga bank yang memberikan penawaran produk KPR syariah menggunakan sistem bunga campuran. Dalam arti pada tahun pertama cicilan, tidak ada bunga yang harus dibayarkan. Namun pada beberapa tahun berikutnya hingga cicilan selesai, ada tambahan bunga yang harus dibayar oleh konsumen.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh KPR syariah adalah uang muka yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan KPR konvensional. Untuk KPR syariah, uang muka yang dapat dibayarkan adalah hingga 10% dari total harga rumah yang ingin dibeli. Sedangkan pada KPR konvensional, konsumen minimal harus membayar uang muka sebesar 15% dari total harga.

Kelebihan yang ketiga, konsumen dan developer KPR syariah dapat menemukan solusi bersama ketika menemukan sebuah masalah. Dalam hal ini, contoh kasusnya adalah konsumen tidak dapat membayar cicilan kredit bulanan sesuai dengan akad. Pihak developer KPR syariah tidak akan memberikan denda ataupun penalti karena hal tersebut jelas-jelas dilarang dalam syariat. Apabila menemukan kendala seperti ini, ada dua solusi paling umum yang diterapkan. Pertama, konsumen harus membantu developer dalam mempromosikan dan menjual salah satu properti bisnis milik developer. Hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk membayar cicilan. Solusi kedua, konsumen terpaksa harus menjual rumahnya yang nantinya sebagian hasil penjualan digunakan untuk membayar cicilan, dan selebihnya menjadi hak utuh konsumen.

2. Kekurangan KPR Syariah

Mengenai plus minus KPR syariah, meskipun sistem yang diterapkan oleh KPR syariah sesuai dengan prinsip-prinsip yang diperbolehkan dalam Islam, namun masih terdapat kekurangan di dalamnya. Pertama, dengan harga yang tak terpengaruh oleh suku bunga bank, maka ketika nilai suku bunga mengalami penurunan, konsumen tak dapat menikmati pembayaran dengan cicilan rendah. Hal ini karena sifat dari cicilan yang diterapkan oleh KPR syariah adalah tetap sehingga tak akan terpengaruh oleh suku bunga sekalipun.

Kedua, tenor pinjaman yang diterapkan oleh KPR syariah dapat dikatakan lebih sedikit apabila dibandingkan dengan KPR konvensional. Hal ini karena pada KPR syariah, tenor maksimal yang berlaku untuk pembelian properti perumahan adalah selama 15 tahun saja. Berbeda dengan KPR konvensional yang tenor pembayarannya dapat berlaku hingga 25 tahun.

Model Kredit yang Diterapkan oleh KPR Syariah

 Kredit KPR Syariah
Kredit KPR Syariah

Setelah mengetahui sedikit tentang plus minus KPR syariah, hal lain yang perlu Anda tahu adalah tentang sistem atau model kredit dalam KPR syariah. Informasi tentang modek kredit ini akan sangat penting, terutama bagi Anda yang ingin melakukan kredit kepemilikan rumah. Dalam hal ini, setidaknya terdapat dua model yang berlaku, di antaranya adalah:

1. Model Murabahah

Murabahah merupakan sebuah perjanjian terhadap aktivitas jual beli rumah yang terjadi antara konsumen dan developer. Singkatnya seperti ini. Pihak developer atau bank akan membeli properti investasi, dalam hal ini rumah, seperti yang diinginkan oleh konsumen. Kemudian pihak developer akan menjual rumah tersebut pada konsumen dengan harga yang telah ditetapkan.

Dengan model seperti ini, maka developer pun tetap mendapatkan keuntungan berdasarkan nilai lebih dan kesepakatan antara kedua belah pihak. Ini adalah model jual beli yang sah menurut prinsip syariah sehingga diperbolehkan. Ini adalah model yang paling sering digunakan dalam sistem jual beli KPR syariah.

2. Model Musyarakah Mutanaqisah

Musyarakah Mutanaqisah merupakan kondisi di mana konsumen dan pihak developer melakukan pembelian barang, dalam hal ini adalah rumah, bersama-sama. Apabila pembelian tersebut telah dilakukan, maka salah satu pihak dapat melunasi kekurangan dari nilai pembelian rumah hingga lunas.

Untuk mendapatkan keuntungan, biasanya rumah akan disewakan pada konsumen yang berposisi sebagai penyewa. Setelah itu, keuntungan sewa akan dibagi menjadi 2 dengan dasar presentase dan tambahan biaya lebih. Pembayaran tersebut terus dilakukan hingga rumah yang awalnya dibeli dengan model musyarakah mutanaqisah tersebut seutuhnya menjadi milik konsumen.

Itulah dua model yang paling sering diterapkan dalam sistem KPR syariah. Dilihat dari penjelasan di atas, sebenarnya model murabahah lebih cocok bagi konsumen yang memang tak memiliki modal cukup dalam membeli sebuah rumah secara langsung. Sebaliknya, untuk model musyarakah mutanaqisah cocok bagi Anda, sebagai konsumen, yang ingin membeli rumah dan memiliki modal yang cukup besar. Dengan begitu, maka waktu serta biaya yang dibutuhkan untuk melunasi cicilan pembayaran juga tidak akan lama.

Demikian sedikit ulasan tentang kekurangan serta kelebihan dari KPR syariah. Maka kini saatnya bagi Anda untuk menentukan apakah ingin beralih menggunakan KPR syariah atau KPR konvensional. Semoga ulasan plus minus KPR syariah di atas bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *