Perbedaan Reksadana Campuran dan Reksadana Pendapatan Tetap

Sebelum membahas mengenai perbedaan reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap, kita perlu mengenali terlebih dulu karakteristik dan kebijakan masing-masing reksadana yang akan kita pilih. Saat ini reksadana yang biasa ditawarkan kepada masyarakat secara umum ada 4 jenis. Yang pertama reksadana saham, reksadana pasar uang, reksadana campuran, dan yang terakhir reksadana pendapatan tetap.

Reksadana sendiri diklasifikasikan menurut kebijakan investasinya. Misalnya investasi yang lebih banyak di pasar uang disebut reksadana pasar uang, investasi yang lebih banyak di obligasi disebut reksadana pendapatan tetap, investasi yang banyak di saham dikenal dengan reksadana saham, dan campuran dari ketiganya (pasar uang, obligasi, saham) familiar dengan sebutan reksadana campuran.

Karena yang dibahas disini adalah perbedaan reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap, maka kita akan membahas secara singkat karakteristik dan kebijakan dari keduanya.

Reksadana Campuran

Secara garis besar reksadana campuran adalah jenis reksadana yang memiliki kebijakan menginvestasikan dana dalam instrument pasar uang, saham, maupun obligasi. Adapun komposisi masing-masing maksimal adalah 79 persen. Yang perlu diketahui, reksadana campuran harus memiliki ketiga instrument tersebut secara bersamaan. Dengan kata lain menurut peraturannya, dalam reksadana campuran tidak boleh hanya ada dua dari ketiga instrument yang dimaksud.

reksadana campuran

Dalam praktiknya sendiri alokasi investasi reksadana campuran sangat variatif. Artinya bisa saja porsi obligasinya lebih besar atau lebih kecil. Demikian juga dengan porsi saham dan pasar uang bisa lebih besar atau lebih kecil. Namun tak jarang juga komposisi ketiganya cukup berimbang.

Mengingat keragaman komposisi dari ketiga instrument tersebut, investor harus benar-benar memperhatikan terlebih dulu porsi alokasi yang telah dtentukan oleh pihak manajer investasi. Tujuannya untuk menyesuaikan antara profil risiko investor dengan reksadana yang nantinya dipilih. Secara umum reksadana campuran yang mempunyai komposisi saham lebih besar dibanding obligasi dan pasar uang biasanya memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Reksadana Pendapatan Tetap

Secara singkat, pengertian reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang didalamnya memiliki kebijakan bagi investor untuk berinvestasi paling sedikit 80 persen dari instrument obligasi / efek utang, dimana waktu jatuh temponya diatas 1 tahun.

Mengapa investasi ini disebut ‘pendapatan tetap’? Ini disebabkan pihak penerbit Efek Utang memberikan bunga (disebut kupon) secara konsisten kepada pemegang efek (investor) tersebut. Garis besarnya, di dalam reksadana pendapatan tetap ini manajer investasi kembali akan menginvestasikan (reinvestasi) bunga yang diterima. Dengan demikian imbal hasil dari investasi reksadana semakin besar.

Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana Pendapatan Tetap

Satu hal yang perlu diingat, meskipun efek  utang acapkali disebut efek pendapatan tetap namun harga obligasi bisa mengalami pergerakan. Artinya harga obligasi tersebut bisa naik bahkan bisa turun. Hal ini disebabkan adanya perubahan tingkat suku bunga. Secara teoritis harga obligasi akan bergerak naik apabila terjadi penurunan tingkat suku bunga. Demikian juga sebaliknya, ketika tingkat suku bunga naik maka harga obligasi akan mengalami penurunan.

Pada prinsipnya, seperti instrument investasi pada umumnya, pergerakan harga obligasi ini sangat dipengaruhi faktor supply dan demand. Harus dipahami bahwa obligasi termasuk surat utang yang diterbitkan oleh sebuah entitas. Jadi tetap ada risiko wanprestasi dari perusahan penerbit obligasi, terlebih untuk perusahaan yang memiliki rating kecil.

Perlu diketahui juga bahwa reksadana pendapatan tetap cenderung berada dikisaran konservatif hingga menengah. Tingkat risikonya juga sedikit diatas reksadana pasar uang. Namun semua kembali pada strategi dari investasi reksadana ini, juga tergantung dari seberapa besar eksposurnya terhadap risiko wanprestasi (misalnya gagal melakukan pembayaran) dari perusahaan penerbit obligasi.

Dari uraian diatas sedikit banyak kita sudah mengetahui perbedaan reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap. Selanjutnya kita akan membahas hal-hal lain berkaitan dengan investasi reksadana ini.

Faktor Risiko Investasi Reksadana

Untuk faktor risiko ini kita tidak hanya bicara tentang perbedaan reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap, tapi juga mencakup reksadana saham dan reksadana pasar uang. Hal ini penting untuk dibahas sebab perbedaan kebijakan investasi dari 4 jenis reksadana tersebut sangat menentukan tingkat fluktuasinya. Tingkat fluktuasi harga reksadana biasa kita kenal dengan sebutan risiko. Dapat dipastikan bahwa jika fluktuasi harga semakin besar, hal ini disebabkan oleh semakin tingginya risiko reksadana.

Jika diurutkan, dari 4 jenis reksadana ini yang memiliki tingkat risiko paling tinggi adalah reksadana saham, disusul kemudian reksadana campuran, lalu reksadana pendapatan tetap, dan yang paling rendah risikonya adalah reksadana pasar uang. Tapi menurut prinsip investasi, semakin tinggi risiko reksadana otomatis semakin besar potensi tingkat pengembalian (return) yang diberikan.

Cara Memilih Reksadana Sesuai Kebutuhan

Cara memilih reksadana sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan dengan jenis reksadana yang akan dipilih. Secara spesifik, definisi dari tujuan keuangan yaitu waktu atau kapan tujuan itu harus bisa terealisasi. Perhatikan baik-baik cara-cara berikut ini:

  • Apabila tujuan keuangan dibutuhkan dalam waktu kurang dari 1 tahun ke depan, maka reksadana pasar uang merupakan pilihan paling sesuai. Contohnya, investor ingin berinvestasi reksadana untuk kebutuhan membayar uang sekolah anak yang jatuh tempo 3 bulan atau 6 bulan lagi, maka dana bisa diinvestasikan pada reksadana pasar uang (misalnya deposito).
  • Jika tujuan keuangan berkisar 1 tahun sampai 3 tahun maka pilihan paling ideal adalah reksadana pendapatan tetap. Contohnya, investor membutuhkan dana untuk DP rumah pada 2 – 3 tahun lagi maka bisa berinvestasi di reksadana pendapatan tetap.
  • Jika tujuan keuangan untuk menyekolahkan anak ke luar negeri 3 tahun atau 5 tahun lagi, maka pilihan paling tepat adalah reksadana campuran khusus tujuan keuangan 3 – 5 tahun.
  • Jika tujuan keuangan untuk investasi jangka panjang, seperti persiapan dana pensiun atau akan diwarikan ke anak cucu, yang perlu dipilih yaitu investasi reksadana saham. Reksadana saham sendiri salah satunya memang diperuntukkan bagi investor yang memiliki tujuan keuangan diatas 5 tahun.

Sebagai catatan, jangka waktu masing-masing reksadana diatas sifatnya tidak mutlak. Meskipun dibawah waktu tersebut reksadana tetap bisa dicairkan. Artinya investor bebas mencairkan dana investasinya kapanpun mereka mau. Namun begitu investasi reksadana yang sesuai jangka waktu membuat investor terhindar dari faktor risiko, dan yang pasti mendapat tingkat pengembalian (return) yang wajar.

Ada sebagian investor yang tidak memiliki tujuan keuangan jangka pendek atau jangka panjang, melainkan hanya untuk mengembangkan kekayaan. Namun begitu mereka tetap bisa berinvestasi di reksadana. Dalam konteks tersebut umumnya pemilihan reksadana yang tepat yaitu dengan cara aset alokasi.

Aset alokasi adalah cara berinvestasi pada lebih dari satu reksadana. Misalnya pada reksadana saham sebesar 50 persen, 20 persen reksadana campuran, dan 30 persen sisanya untuk reksadana pendapatan tetap. Jika menggunakan kombinasi dengan komposisi tersebut maka investor akan memiliki investasi yang lebih sesuai dengan tingkat risikonya, sekaligus mendapatkan tingkat pengembalian atau imbal hasil yang maksimal dalam jangka panjang.

Demikian penjelasan perbedaan reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap, faktor risiko, serta cara memilih reksadana berdasarkan tujuan keuangan. Semoga bisa bermanfaat.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *