Keuntungan Obligasi Syariah Berdasarkan Muamalah Sesuai Syariat Islam

Keuntungan Obligasi Syariah – Meskipun sama-sama berorientasi pada penanaman modal atau investasi namun ada perbedaan cukup signifikan antara obligasi syariah dengan obligasi konvensional. Adapun perbedaan paling mencolok terdapat di beberapa aspek seperti karakteristik, kesepakatan biaya administrasi, sistem pembagian imbal hasil, dan masih banyak lagi.

Sejak adanya konvergensi pendapat bahwa bunga uang adalah riba, sebagian besar instrument yang terdapat komponen bunga (interest-bearing instrument) keluar dari list investasi berlabel halal. Oleh sebab itu dimunculkan investasi alternatif yang kemudian disebut obligasi syariah. Pada awalnya penggunaan nama “obligasi syariah” banyak mengundang kontroversi. Mengapa? Karena obligasi selama ini terlanjur identik dengan bunga sehingga cukup sulit jika harus di-syariah-kan.

Namun setelah dipelajari lebih lanjut, dalam obligasi syariah terdapat bentuk pendanaan (financing) sekaligus investasi yang memungkinkan beberapa struktur yang bisa ditawarkan dan tetap menghindarkan dari riba. Lambat laun obligasi syariah mulai dikenal sebagai investasi halal, dan terlepas dari konotasi negatif “obligasi” yang selama ini identik dengan riba.

Secara prinsip obligasi syariah juga sedikit berbeda dengan obligasi konvensional. Bagaimana prinsip, karakteristik dan keuntungan obligasi syariah? Apa saja jenis investasi obligasi syariah dan apa saja persyaratannya? Mari kita simak pembahasannya lebih lanjut.

Prinsip dan Karakteristik Obligasi Syariah

Obligasi Syariah
Obligasi Syariah

Berbeda dari obligasi konvensional, obligasi syariah memiliki setidaknya 5 karakteristik yaitu:

  1. Dalam penerbitan obligasi syariah oleh lembaga / perusahaan (emiten) membutuhkan underlying asset atau aset yang menjadi dasar atas diterbitkannya obligasi tersebut.
  2. Obligasi yang diterbitkan menjadi bukti kepemilikan atas semua underlying asset.
  3. Imbal hasil atau keuntungan diperoleh dari bagi hasil, sewa atau investasi kembali (reinvestasi) obligasi, maupun selisih harga lebih (margin) dari penjualan obligasi.
  4. Tidak terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam (riba, gharar, maysir, dsb)
  5. Dana dari pemodal harus digunakan sesuai prinsip-prinsip syariah.

Di dunia investasi obligasi syariah lebih dikenal dengan sebutan Sukuk. Adapun penerbitan obligasi Sukuk tentu saja tergantung pada aset yang mendasarinya. Aset-aset yang menjadi dasar diterbitkannya obligasi syariah bisa berupa tanah, berbagai jenis bangunan, dan semua golongan harta tidak bergerak lainnya.

Munculnya obligasi syariah sendiri lebih dilatarbelakangi faktor ketentuan tentang sistem muamalah Islam. Muamalah tersebut terkait adanya larangan melakukan aktivitas yang berujung riba atau kegiatan lain yang masuk kategori haram dalam Islam. Hal ini termasuk salah satu keuntungan obligasi syariah terutama bagi umat Islam yang benar-benar ingin menjalankan syariat Islam.

Manfaat Obligasi Syariah dan Jenis-jenis Obligasi Syariah

Jika digunakan dalam satu lingkup negara, ada sejumlah manfaat yang bisa didapat dari penerbitan obligasi syariah. Yang pertama, besarnya dana dapat digunakan untuk memperluas pembiayaan atau anggaran negara. Yang kedua, untuk mengembangkan alternative dalam berinvestasi. Yang ketiga, dapat dijadikan standar obligasi dalam pasar uang syariah. Yang keempat, memperkaya instrument pembiayaan fiskal. Kelima, mendongkrak perkembangan pasar keuangan syariah. Keenam, mengoptimalkan penggunaan maupun pengelolaan Barang Milik Negara. Dan yang ketujuh, memperluas basis investor.

Investasi Obligasi
Investasi Obligasi

Berdasarkan akad dalam penerbitannya, obligasi syariah dibagi menjadi beberapa jenis. Di Indonesia sendiri ada sejumlah pilihan akad yang digunakan dalam penerbitan obligasi syariah. Pilihan akad tersebut diantaranya: Mudharabhah, Musyarakah, Ijarah, Murabahah, Salam, dan Istinha.

Obligasi Mudharabhah

Obligasi Mudharabhah adalah obligasi dimana didalamnya terdapat akad perjanjian antara pemodal (investor) dengan pihak penerima modal terkait pengelolaan dana yang diinvestasikan. Jika mendapatkan keuntungan maka akan dibagi secara adil, namun jika terjadi kerugian ditanggung oleh investor.

Obligasi Musyarakah

Obligasi Musyarakah adalah obligasi dimana didalamnya terdapat perjanjian antara pemilik modal (investor), penerima modal, dan atau pihak ketiga. Masing-masing pihak menyetorkan modal dalam jumlah yang sudah disepakati untuk usaha tertentu, selanjutnya keuntungan obligasi syariah musyarakah ini akan dibagi rata. Demikian juga jika terjadi kerugian ditanggung oleh masing-masing pemilik modal.

Obligasi Ijarah

Obligasi ijarah merupakan akad sewa antara pihak pemberi sewa dan penerima sewa. Dalam hal ini pemberi sewa menyerahkan barang miliknya (sesuai perjanjian) kepada penerima sewa dengan jumlah biaya sewa sesuai kesepakatan. Dalam obligasi ijarah ini tidak ada pemindahan hak milik.

Obligasi Murabahah

Obligasi murabahah merupakan akad jual beri barang dimana keuntungan yang diperoleh dihitung berdasarkan selisih lebih penjualan (margin). Pembagian keuntungannya tergantung kesepakatan penjual dan pembeli barang.

Obligasi Salam

Obligasi salam merupakan akad muslam fiih atau jual beli barang pesanan. Barang akan dikirim oleh muslam illaihi (penjual) diwaktu yang disepakati. Pelunasan pembayaran dilakukan oleh al muslam (pembeli) ketika akad disepakati sesuai syarat-syarat yang sudah ditentukan.

Obligasi Istinha

Obligasi Istinha ini merupakan perjanjian dimana semua pihak menyepakati aktivitas jual beli barang, pembiayaan proyek, dan sebagainya.

Perbedaan Obligasi Syariah dengan Obligasi Konvensional

Selain keuntungan obligasi syariah, ada beberapa perbedaan dari obligasi syariah ini dengan obligasi konvensional. Perbedaan tersebut mencakup prinsip, keuntungan, konsep imbalan, biaya administrasi, hingga basis investor.

Dalam obligasi syariah sendiri prinsip yang dijalankan harus sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian otomatis obligasi syariah harus berlandaskan syariah. Sedangkan pada obligasi konvensional tidak ada batasan khusus. Artinya aktivitas investasi tidak dibatasi dan pada umumnya kebijakan terkait apapun tergantung dari manajer investasi. Contohnya penetapan bunga dan imbal hasil. Umumnya besar bunga obligasi (kupon) sudah ditentukan oleh pihak manajer investasi, tidak harus menunggu persetujuan pihak pemilik modal.

Obligasi Syariah vs konvensional
Obligasi Syariah vs konvensional

Perbedaan yang cukup signifikan juga terlihat dari imbal hasil pada investasi yang dilakukan. Pada obligasi syariah imbalan yang didapat diambil dari bagi hasil keuntungan sehingga pembagiannya sama rata. Sebaliknya pada obligasi konvensional keuntungan yang didapat pemilik modal terdapat unsur riba atau bunga yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam.

Perbedaan obligasi syariah dan obligasi konvensional juga terlihat dari basis investornya. Basis investor obligasi syariah lebih luas dibanding obligasi konvensional. Hal ini karena secara umum obligasi syariah tidak membatasi jumlah dana yang diinvestasikan. Bagi obligasi konvensional hal ini berlaku sebaliknya.

Faktor pembeda antara dua jenis obligasi ini juga terdapat pada besarnya biaya administrasi. Pada obligasi syariah selain biaya administrasi juga diberlakukan biaya tambahan untuk dewan syariah. Meskipun begitu nominal pungutan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan obligasi konvensional. Hal ini berlaku sebaliknya pada obligasi konvensional. Obligasi ini memang tidak membebankan biaya tambahan pada pemilik modal. Namun begitu nominal pungutan jumlahnya lebih tinggi dibanding obligasi syariah.

Keuntungan obligasi syariah memang bisa didapat dari cara investasi obligasi berbasis syariah. Namun seperti yang kita ketahui, agama Islam menganjurkan seluruh umatnya untuk melakukan kegiatan ekonomi (muamalah) sesuai syariat Islam. Jadi setiap muamalah hendaknya tidak hanya memberi kebermanfataan bagi diri sendiri namun juga pada orang lain. Tentunya hal ini hanya bisa didapatkan dari investasi obligasi syariah. Hal mulia yang belum tentu bisa diperoleh dari jenis obligasi lainnya.

 

 

 

Artikel Investasi Syariah ini dikenal, sbb :

karakteristik obligasi syariah -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *