Ingin Sukses Berinvestasi? Simak Cara Investasi Saham Jangka Panjang Ini

Cara Investasi Saham Jangka Panjang – Di dunia bisnis investasi, saham dikenal sebagai instrumen investasi paling agresif. Oleh karena itu butuh strategi khusus untuk berinvestasi di sektor ini. Dikatakan agresif karena sampai saat ini saham menawarkan hasil investasi rata-rata paling besar dibanding jenis investasi yang lain.

Satu contoh misalnya, dari tahun 2002 hingga 2016 Index Harga Saham Gabungan (IHSG) naik dari angka 424,9 menjadi 5713,4. Jika dipersentasekan, dalam kurun waktu 14 tahun kenaikan mencapai lebih dari 1344%, yang artinya rata-rata naik 89% per tahun.

Investasi Saham Jangka Panjang
Investasi Saham Jangka Panjang

Mengacu dari data valid diatas sangat masuk akal jika seseorang memilih investasi jangka panjang, khususnya pada instrumen investasi saham. Kendati demikian cukup banyak investor pemula yang belum paham tentang cara investasi saham jangka panjang. Dengan kata lain mereka bingung strategi apa yang harus diterapkan untuk investasi saham jangka panjang tersebut.

Jika Anda seorang investor pemula, berikut ini tips investasi saham jangka panjang yang bisa Anda pelajari untuk mendapatkan imbal hasil maksimal.

Beli Saham Berdasarkan Perhitungan Nilai Wajar Saham dibanding Harga Pasar

Cara ini disebut Value Investing, yaitu berinvestasi dengan membeli saham berdasarkan perhitungan nilai wajar (intrinsic) harga saham, dibandingkan dengan harga saham yang tengah diperdagangkan di bursa saham. Jika harga saham lebih rendah dibanding nilai intrinsic-nya, saham tersebut biasanya akan dibeli Value Investor.

Ada sejumlah kriteri saham yang layak dikategorikan dalam Value Investing seperti:

  • Memiliki rasio utang (DER) di bawah 1
  • Saham termasuk 10% mempunyai rasio PER terendah
  • Memiliki minimal 5% rasio tidak wajib (Dividend Yeild)
  • Saham yang dijual harganya lebih rendah dari 2/3 harga saham wajar
  • 10 tahun terakhir mengalami pertumbuhan laba minimal 7%
  • Total aset lancar setidaknya 2 kali lebih besar dibanding utang lancar

Berinvestasi pada saham dengan Pertumbuhan Laba Cepat

cara investasi saham jangka panjang yang kedua ini disebut Growth Investing, yaitu sebuah strategi berinvestasi dengan memilih saham yang memiliki laju pertumbuhan laba paling cepat. Dalam hal ini growth investor adalah seorang investor yang biasa membeli saham dengan prospek pertumbuhan laba bagus. Contohnya, jika sebuah perusahaan mampu membukukan laba secara konsisten maka saham perusahaan tersebut akan laris manis diborong growth investor.

Ada beberapa kriteria perusahaan dengan pertumbuhan laba konsisten yaitu:

  • Memiliki catatan pertumbuhan laba bersih yang cepat
  • Pernah mengalami kenaikan 2x lipat dan konsisten dalam kurun waktu 5 tahun terakhir
  • Pertumbuhan laba bersih lebih tinggi dari perusahaan kompetitor

Untuk mengetahui sebuah perusahaan mengalami pertumbuhan laba bersih dan cepat dalam waktu 5 tahun terakhir, maka perusahaan tersebut harus memiliki pertubuhan laba tahunan minimal 5% (perusahaan besar), minimal 7% (perusahaan menengah), dan 12% (perusahaan kecil).

Growth At Reasonable Price (GARP) Investing

Bisa dikatakan cara ini adalah gabungan dari Value Investing dan Growth Investing, yaitu cara berinvestasi saham dengan membeli saham murah namun memiliki pertumbuhan cepat. Untuk mencari saham dengan kriteria ini bisa denga menghitung rasio Price Earning Growth (PEG) terlebih dahulu. PEG bisa dhitung dengan cara membagi PER dengan persentase laba bersih (EPS). Rumusnya PEG = PER : EPS.

Contoh: rasio PER sebuah saham adalah 5x sedangkan laba bersih sebesar 10% selama 5 tahun terakhir. Maka rasio PEG saham tersebut adalah: 5 : 10 = 0,5x. Intinya semakin kecil nilai rasio PEG justru semakin bagus. Kenapa? Karena pada saham tersebut PER-nya relatif lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba bersih.

Mengharap Keuntungan Cashflow daripada Keuntungan Capital Gain

cara investasi saham jangka panjang berikut ini dikenal dengan sebutan Income Investing. Yaitu sebuah strategi mengharapkan imbal hasil yang sifatnya lebih pada keuntungan cashflow dibanding keuntungan capital gain. Dilihat dari strateginya, cara investasi ini lebih cocok digunakan oleh penanam modal yang memerlukan uang berkala. Contohnya seorang pensiunan yang membutuhkan biaya hidup dari hasil pembagian dividen.

Ada 2 kriteria saham yang layak disebut Income Investing yaitu:

  • Minimal Dividen Yeild adalah 3%
  • Minimal 5 – 25 tahun terakhir konsisten membagi dividen

Teori Random Walk Investing

Ini adalah teori investasi yang menyatakan bahwa statistic harga pasar saham tidak bisa diprediksi dan berevolusi secara acak. Adapun teori ini mengacu pada asumsi pergerakan efisien harga saham di bursa saham. Sederhananya, investor beramsumsi terjadi pergerakan haga saham apabila ada informasi terkait perubahan fundamental suatu perusahaan.

Harga saham biasanya bergerak secara acak karena informasi yang diterima juga datang secara acak. Dengan demikian pergerakan harga saham tidak bisa diramal atau diprediksi. Jika terjadi underpriced atau harga saham terlalu murah maka saham tersebut akan diborong investor sehingga harganya naik. Sebaliknya jika terjadi overpriced investor biasanya segera menjual kembali saham tersebut sehingga harganya terkoreksi (turun).

Strategi Dollar Cost Averaging

Strategi investasi saham jangka panjang ini juga dikenal dengan strategi diversifikasi melalui waktu. Melalui strategi ini maka investor melakukan investasi secara rutin (misalnya setiap bulan) dengan jumlah uang yang sama tanpa meperhitungkan tinggi rendahnya harga saham. Dengan kata lain strategi dollar cost averaging mewajibkan setiap investor untuk menanamkan uang secara teratur dengan jumlah yang sama setiap periode-nya.

Lalu dimana letak keuntungannya? Keuntungan yaitu saat harga naik investor bisa membeli saham dalam jumlah sedikit, sebaliknya saat harga turun bisa membeli saham sebanyak-banyaknya. Kita bisa ambil contoh simulasinya seperti berikut ini.

Pak Arman menganggarkan dana Rp 1 juta setiap bulan untuk membeli saham XYZ.

  • Bulan pertama: Pak Arman mendapatkan 3.125 lembar saham dari harga Rp 320 per-lembar
  • Bulan kedua: Pak Arman mendapatkan 2000 lembar saham dari harga Rp 500 per-lembar
  • Bulan ketiga: Pak Arman mendapatkan 2.272 lembar saham dari harga Rp 420 per-lembar

Dengan modal total Rp 3 juta (3 bulan) maka Pak Arman sudah mengumpulkan total 7.397 lembar saham. Dengan demikian harga rata-rata saham per-lembar yaitu Rp 3.000.000 : 7.397 lembar = Rp 405,5 per-lembar.

Sekarang coba kita bandingkan jika Pak Arman membeli saham dengan harga berbeda namun jumlah lembarnya sama, misalnya 7.200 lembar (2.400 lembar per-bulan).

  • Bulan pertama: harga Rp 320 per-lembar maka Pak Arman harus mengeluarkan Rp 768.000 untuk membeli 2.400 lembar
  • Bulan kedua: harga Rp 500 per-lembar maka Pak Arman harus mengeluarkan Rp 1.200.000 untuk membeli 2.400 lembar
  • Bulan ketiga: harga Rp 440 per-lembar, maka Pak Arman harus mengeluarkan Rp 1.056.000 untuk membeli 2.400 lembar

Dalam 3 bulan Pak Arman harus mengeluarkan uang total Rp 3.024.000 untuk membeli lembar saham dalam jumlah yang sama (justru lebih sedikit). Dengan demikian harga rata-rata per-lembar saham yaitu Rp 3.024.000 : 7.200 lembar = Rp 420 per-lembar.

Melalui simluasi diatas sudah jelas bahwa dollar cost averaging adalah strategi investasi saham yang lebih menguntungkan. Dengan cara ini sedikit kemungkinan investor akan merugi karena membeli saham saat harganya sedang tinggi.

Demikian cara investasi saham jangka panjang yang bisa Anda pelajari untuk menambah wawasan Anda seputar dunia investasi, khususnya di sektor saham. Semoga Bermanfaat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *