Berapa Jangka Waktu Investasi Reksadana Paling Ideal?

Jangka Waktu Investasi Reksadana – Menanamkan modal atau berinvestasi perhitungannya tidak hanya masalah keuntungan, namun juga perputaran waktu investasi. Oleh sebab itu menentukan berapa lama jangka waktu investasi yang harus diambil termasuk salah satu faktor paling krusial.

Semua jenis investasi pasti berlangsung demikian, dimana ada investasi dengan return tinggi dalam waktu singkat risikonya juga tinggi. Sebaliknya banyak juga investasi yang memberikan return kecil namun resikonya lebih rendah. Artinya semua berbalik pada profil risiko yang nantinya diambil dan juga disesuaikan dengan kebutuhan.

Untk menentukan berapa lama jangka waktu investasi rekadana, cukup banyak pilihan yang bisa diambil. Pasalnya produk reksadana sendiri ada beberapa macam, mulai dari reksadana obligasi, reksadana pasar uang, reksadana campuran, dan reksadana pendapatan tetap. Dari semua produk tersebut sudah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pertimbangan Penting Menentukan Jangka Waktu Investasi Reksadana

Investasi Reksadana

Banyak investor awam yang secara finansial siap berinvestasi dengan dana tinggi. Tapi mayoritas cukup kesulitan menentukan jangka waktu reksadana yang paling ideal. Untuk mengantisipasi kesalahan memilih jangka waktu investasi reksadana, berikut hal-hal penting yang perlu dipertimbangkan.

1. Perlu Disesuikan dengan Kebutuhan Masa Depan

Pada prinsipnya jangka waktu investasi apapun mutlak ada di tangan investor sendiri. Apakah ingin memilih investasi jangka pendek, menengah, atau justru jangka panjang. untuk menentukan mana yang paling tepat Anda perlu memikirkan penggunaan keuntungan dari investasi tersebut.

Misalnya apabila ingin digunakan untuk biaya sekolah anak nanti di perguruan tinggi, sementara saat ini anak masih duduk di bangku SD, maka Anda bisa memilih periode jangka panjang. Lain halnya jika investasi ingin digunakan untuk lahiran anak beberapa bulan lagi, sebaiknya Anda pilih investasi jangka pendek.

2. Putuskan Apakah Dana Ingin Diendapkan Hingga Waktu Jatuh Tempo atau Dicairkan Sewaktu-waktu

Untuk poin yang kedua ini Anda perlu menengok kondisi finansial Anda. Pertimbangkan apakah dana yang diinvestasikan benar-benar dana yang tidak terpakai atau justru sangat dibutuhkan sewaktu-waktu. Banyak orang kadang menggunakan dana tabungan untuk berinvestasi, ada juga yang memisahkan keduanya.

Apabila Anda termasuk orang yang menggunakan dana tabungan (simpanan pokok) untuk berinvestasi, maka Anda harus bersiap untuk mencairkan dana jika ada kebutuhan mendadak. Untuk alasan ini pilihan jangka waktu investasi reksadana yang paling ideal jangka pendek atau jangka menengah.

3. Jangka Waktu Perlu Disesuaikan dengan Jenis Reksadana

Dalam hal ini Anda tidak hanya diwajibkan menentukan jangka waktu investasi yang tepat namun juga perlu disesuaikan dengan produk reksadana yang akan diambil. Jika masih awam sebaiknya Anda berkonsultasi dengan manajer investasi profesional. Dengan begitu Anda akan mendapat solusi terkait instrument yang paling tepat sesuai kondisi finansial Anda.

Satu contoh pilihan reksadana pasar uang untuk investasi jangka pendek, maka Anda akan memperoleh pendapatan tetap imbal hasil untuk masa investasi 1 – 3 tahun. Juga informasi mengenai reksadana campuran dengan jangka waktu 3 – 5 tahun atau jangka waktu diatas 5 tahun untuk reksadana saham.

4. Pertimbangkan Apakah Memilih Investasi Rutin atau Sekali Langsung Banyak

Saat menentukan jangka waktu investasi reksadana, Anda juga perlu mempertimbangkan apakah Anda akan melakukan investasi rutin setiap bulan atau justru hanya sekali tetapi langsung banyak?. Pertimbangan ini penting sebab manajer investasi lebih mudah memilih instrument yang paling tepat.

5. Ekspektasi Return Wajar Reksadana Pendapatan Tetap

Setelah membahas tentang jangka waktu investasi reksadana, berikutnya kita akan menaksir berapa ekspektasi return yang wajar pada reksadana pendapatan tetap. Mengapa harus reksadana pendapatan tetap? Karena reksadana ini merupakan produk reksadana yang memiliki kebijakan investasi minimal 80 persen pada instrument obligasi. Dari sisi risiko, reksadana obligasi lebih berisiko dibanding reksadana pasar uang (misalnya deposito) namun lebih rendah dibanding reksadana saham.

Lalu berapakah tingkat return yang wajar untuk produk reksadana ini?

Obligasi dan deposito memiliki kemiripan yaitu sama-sama memiliki waktu jatuh tempo di jangka waktu tertentu. Biasanya jangka waktu investasi reksadana obligasi maupun deposito cukup panjang yaitu 1 – 30 tahun. Dalam hal ini penerbit obligasi (emiten) bukan hanya bank, tapi bisa juga perusahaan swasta atau pemerintah.

Oleh karena memiliki waktu jatuh tempo yang panjang, obligasi dapat diperjualbelikan. Hal ini untuk memudahkan investor memperoleh dana bila dibutuhkan. DIbanding harga saat diterbitkan, harga obligasi bisa sama, lebih rendah, atau lebih tinggi. Contoh sederhananya, Anda membeli obligasi senilai 20 juta dan jatuh tempo 5 tahun. Saat berjalan 6 bulan Anda berniat menjualnya kembali karena kebutuhan mendadak. Saat itu harganya bisa tetap 20 juta, diatas 20 juta, atau justru dibawah 20 juta.

Kesimpulannya, return di reksadana pendapatan tetap tergantung dari beberapa aspek seperti kondisi suku bunga deposito bank, jangka waktu jatuh tempo, besaran bunga (kupon) yang ditawarkan manajer investasi, minat pembeli, dan risiko gagal bayar jika penerbitnya dari perusahaan swasta yang memiliki rating rendah.

Apa yang Membuat Harga Obligasi Naik?

Ada beberapa faktor yang mampu mendongkrak harga obligasi, diantaranya penerbit obligasi termasuk perusahan dengan peringkat hutang yang baik, kondisi suku bunga deposito lebih rendah sewaktu transaksi, dan adanya permintaan cukup besar terhadap obligasi di pasar modal.

Berbanding terbalik ketika suku bunga deposito bank naik saat obligasi dijual. Besar kemungkinan harga obligasi terjun bebas karena pasar menilai suku bunga bank lebih menarik. Ini belum termasuk margin atau keuntungan dari selisih harga penjualan dimana menurut peraturan perpajakan,  investor dikenakan pajak sebesar 15 persen dari margin tersebut.

6. Keuntungan Investasi Reksadana Obligasi

Satu dari beberapa keuntungan reksadana obligasi adalah kisaran bunga yang relatif kecil. Mengacu pada peraturan perpajakan, apabila reksadana yang membeli obligasi maka pajak yang harus dibayarkan sebesar 5 persen dari margin (berlaku hingga tahun 2020) dan sebesar 10 persen dari margin (berlaku tahun 2021) dan seterusnya bertambah 5 persen untuk setiap kelipatan 5 tahun.

Sewaktu penanam modal berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, biasanya pihak manajer investasi tidak membagikan bunga (kupon) kepada investor. Namun mereka akan menginvestasikan lagi (disebut reinvestasi) kupon tersebut dengan harapan Nilai Aktiva Bersih per-Unit (NAB pr-UP) akan bertambah.

Jika investor secara spesifik melihat harga reksadana pendapatan tetap, pergerakan tersebut sudah mengisyaratkan naik turunnya harga dari obligasi ditambah dengan hasil reinvestasi kupon. Yang harus dicermati dalam hal ini yaitu besaran fluktuasi dari harga obligasi. Biasanya reksadana obligasi terutama yang diterbitkan oleh pemerintah harganya cenderung kurang stabil. Artinya bisa naik turun secara drastis. Bahkan tak jarang nilai penurunan harga lebih besar dibanding kupon yang diterima. Dengan demikian jika dikalkulasi dalam NAB per-Up akan menghasilkan kinerja negatif.

Jadi ketika investor menanamkan modal tidak hanya jangka waktu investasi reksadana saja yang harus diperhatikan, namun jenis reksadana pendapatan tetap juga layak dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk diversifikasi. Tidak semua investasi harus ditempatkan di reksadana saham, karena meskipun strategi investasinya berbeda, umumnya ketika harga saham turun semua ikut turun juga. Artinya dengan membagi dana ke investasi reksadana berbeda maka risiko fluktuasi bisa lebih ditekan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *