6 Perbedaan Investasi Syariah dan Investasi Konvensional yang Harus Diketahui

Meskipun investasi menjadi salah satu pengetahuan umum di masa sekarang, namun tak sedikit masyarakat yang masih belum mengetahui perbedaan investasi syariah dan investasi konvensional. Apabila dilihat sekilas, secara garis besar perbedaan keduanya terdapat pada sistem dan prinsip yang digunakan. Pada investasi konvensional, semua cara dan sistem dilakukan asalkan perusahaan investasi tersebut mendapatkan keuntungan. Berbeda dengan investasi syariah yang dalam menjalankan bisnisnya mengacu pada prinsip-prinsip syariah. Dengan begitu, maka pendapatan yang diperoleh baik oleh perusahaan atau investor pun dapat dijamin halal.

Dengan memegang prinsip mualamat yang diperbolehkan dalam Islam, investasi syariah menjadi alternatif terbaik dalam bagi umat muslim yang ingin berinvestasi. Adapun beberapa perbedaan antara investasi syariah dan investasi konvensional yang harus Anda ketahui.

Perbedaan Investasi Konvensional dan Investasi Syariah

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa perbedaan mendasar antara investasi syariah dan investasi konvensional terletak pada prinsip yang digunakan. Investasi konvensional terbilang lebih bebas sedangkan investasi syariah menggunakan prinsip yang diperbolehkan dalam Islam. Untuk memahami perbedaan mendasar, berikut adalah ulasannya:

Indeks Perdagangan

Pada indeks perdagangan investasi syariah maupun investasi konvensional, keduanya dikeluarkan masing-masing pada pasar modal yang sesuai. Misalnya untuk investasi syariah, dikeluarkan oleh pasar modal syariah dan sebaliknya.

pasar modal syariah
pasar modal syariah

Meskipun indeks perdagangan investasi syariah dikeluarkan oleh pasar modal syariah, namun tak menutup kemungkinan pasar modal konvensional pun dapat menjadi acuan. Jadi apabila ternyata indeks syariah tersebut dikeluarkan oleh pasar modal konvensional, maka untuk perhitungan indeksnya didasarkan kepada saham-saham yang telah memenuhi kriteria sebagai saham syariah. Setidaknya beberapa kriteria sebuah saham dapat dikatakan syariah adalah apabila saham tersebut tak berhubungan dengan perusahaan yang memproduksi atau mendistribusikan produk-produk yang dilarang oleh prinsip syariah. Misalnya adalah saham pada perusahaan minuman keras, rokok, dan alat-alat judi.

Sedangkan pada indeks investasi konvensional, semua data diambil secara menyeluruh dalam bursa saham. Dengan kata lain tak peduli apakah saham tersebut memiliki aspek halal-haram, asalkan saham terdaftar dalam bursa saham, maka dapat diperjual belikan. Inilah salah satu perbedaan mendasar antara investasi syariah dan investasi konvensional.

Instrumen yang Diperdagangkan

Adapun perbedaan investasi syariah dan investasi konvensional berikutnya dapat dilihat dari instrumen yang diperdagangkan di pasar modal. Untuk investasi syariah, instrumen yang dapat diperdagangkan adalah saham, obligasi syariah, dan reksadana syariah saja. Hal ini karena ketiga instrumen ini lebih mudah diawasi dalam hal riba, maysir, dan ghahar yang tak sesuai dengan prinsip syariah. Selain

Sedangkan pada investasi konvensional, ada banyak instrumen yang diperdagangkan seperti saham, obligasi, reksadana, opsi, right, dan waran.

Mekanisme Transaksi di Pasar Modal

pasar modal syariah
pasar modal syariah

Perbedaan lainnya antara kedua jenis investasi ini adalah mengenai mekanisme transaksi yang dilakukan. Ada beberapa poin yang nanti dapat Anda gunakan untuk membandingkan antara investasi syariah dan investasi konvensional. Pada investasi syariah, mekanisme transaksinya adalah sebagai berikut:

  • Tidak mengandung transaksi ribawi atau transaksi yang terdapat unsur riba di dalamnya.
  • Tidak melakukan transaksi yang bersifat ghahar (meragukan) dan bersifat spekulatif.
  • Saham perusahaan investasi syariah tak bergerak pada bidang-bidang yang diharamkan seperti saham perusahaan alkohol, judi, rokok, dan lain sebagainya.
  • Transaksi pembelian dan penjualan saham tak boleh dilakukan secara langsung demi menghindari terjadinya manipulasi harga.

Sedangkan pada mekanisme transaksi yang dilakukan pada perusahaan investasi konvensional adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan konsep bunga yang dapat dipastikan mengandung riba
  • Semua transaksi yang dilakukan bersifat spekulatif dan manipulatif
  • Saham perusahaan bergerak pada semua bidang sehingga tak memperdulikan antara aspek halal-haram
  • Transaksi pembelian dan penjualan dilakukan secara langsung menggunakan jasa broker. Dengan begitu, maka kemungkinan terjadinya permainan harga sangat memungkinkan dalam transaksi pada investasi konvensional.

Saham yang Diperdagangkan

Pada investasi syariah, saham yang diperdagangkan berasal dari emiten (perusahaan yang sahamnya boleh diperjual-belikan) dengan memenuhi syarat dan prinsip syariah. Adapun syarat-syaratnya adalah:

  • Tak ada transaksi yang berbasis interest atau bunga
  • Transaksi harus jelas
  • Saham harus berasal dari perusahaan-perusahaan yang terjamin halal aktivitas bisnisnya
  • Tak ada transaksi yang mengandung unsur manipulasi pasar, insider trading, dan lain sebagainya.
  • Instrumen transaksi yang digunakan hanya menggunakan prinsip-prinsip yang diperbolehkan dalam syariah seperti mudhorobah, musyarakah, ijarah, dan istisna’.

Sedangkan pada investasi konvensional saham yang diperjual belikan datang dari semua emiten tanpa mempertimbangkan unsur halal-haram. Berikut adalah ciri-cirinya:

  • Mengandung semua transaksi yang mengandung bunga
  • Mengandung transaksi yang bersifat spekulatif
  • Sasarannya adalah semua perusahaan, baik yang aktifitas bisnisnya haram atau halal
  • Mengandung transaksi yang bersifat manipulatif

Obligasi

Perbedaan investasi syariah dan investasi konvensional juga dapat dilihat dari jenis investasi obligasi yang dilakukan. Untuk obligasi syariah, persyaratannya adalah sebagai berikut:

  • Harus berdasar pada akad mudhorobah dengan melihat fatwa MUI dalam DSN-MUI no. 7/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan mudhorobah.
  • Emiten bertindak sebagai pengelola modal atau mudhorib
  • Pemegang obligasi berperan sebagai pemodal atau shohibul mal
  • Emiten obligasi tak boleh melakukan segala bentuk kegiatan yang bertentang dengan prinsip-prinsip yang telah diatur dalam syariah Islam
  • Semua perjanjian harus disebutkan dalam kontrak atau akad kerjasama antara perusahaan obligasi syariah dan pemodal

Sedangkan pada obligasi konvensional, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Semua bentuk kegiatan investasi berdasarkan prinsip bunga
  • Emiten bertindak sebagai pihak yang berhutang atau debitur
  • Pemegang obligasi memiliki posisi sebagai pihak yang berpiutang atau kreditur
  • Emiten obligasi dibebaskan dalam setiap kegiatan usahanya sehingga tak ada batasan tentang mana yang halal dan mana yang haram

Reksadana

Seperti halnya perbedaan investasi syariah dan investasi konvensional di atas, ciri paling mendasar antara keduanya adalah mengenai prinsip-prinsip yang digunakan. Hal ini juga berlaku untuk reksadana. Pada reksadana syariah, harus memenuhi syarat berikut ini:

  • Telah terjadi akad antara pemodal dan manajer investasi serta akad antara manager investasi dan pengguna investasi. Hal ini didasarkan pada fatwa DSN-MUI no. 20/DSN-MUI/IX/2000 yang mengatur tentang reksadana syariah
  • Kegiatan investasi dilakukan pada instrumen-instrumen keuangan yang harus sesuai dengan prinsip syariah
  • Jenis usaha emiten juga harus sesuai dengan syariah
  • Untuk pembagian keuntungan antara pemodal yang diwakili manager investasi dan pengguna investasi didasarkan pada proporsi yang telah ditentukan dalam akad
  • Manager investasi tak menanggung risiko kerugian. Dengan kata lain yang mendapatkan tanggung jawan untuk menanggung kerugian adalah pihak pemodal

Adapun ciri-ciri obligasi konvensional yang diterapkan dalam dunia investasi adalah sebagai berikut:

  • Berdasarkan pada kontrak investasi kolektif dengan mengacu pada UU No. 8 Tahun 1995 bab IV pasal 18 hingga pasal 29 tentang pasar modal
  • Investasi dilakukan pada instrumen-instrumen investasi konvensional
  • Jenis usaha emiten tak harus mengacu pada prinsip-prinsip syariah
  • Pembagian keuntungan antara manager investasi dan pemodal didasarkan pada perkembangan suku bunga
  • Karena menggunakan prinsip kolektivitas, maka manager investasi juga ikut menanggung risiko apabila perusahaan mengalami kerugian

Dengan mengetahui beberapa perbedaan tersebut, maka Anda dapat lebih mempertimbangkan mengapa investasi syariah lebih menguntungkan untuk dilakukan. Demikian sedikit ulasan tentang perbedaan investasi syariah dan investasi konvensional.

Artikel Investasi Syariah ini dikenal, sbb :

perbedaan investasi syariah dan konvensional -perbedaan investasi konvensional dan syariah -perbedaan investasi dalam perbankan islam dan konvensional -investasi konvensional -syarat mendapat investasi rdpt dari manager investasi -perbedaan antara resiko investasi syariah dengan konvesional -perbedaan investasi konvensional dan investasi syariah -contoh investasi syariah dan konvensional -beda investasi syariah dengan konvensional -investasi bank konvensional -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *